Krisis Kemanusiaan, Ali Syariati Dan Humanisme Islam (Part 1)

Krisis Kemanusiaan, Ali Syariati Dan Humanisme Islam (Part 1)

Desember 23, 2020 0 By admin

Permasalahan manusia adalah salah satu permasalahan terpenting dibandingkan dengan permasalahan  lainnya, satu nyawa manusia menjadi penting, sebagaimamna pasal 25 A Undang-Undang Dasar Tahun 1945 . Namun banyak nyawa yang dipaksa lepas dari jasadnya demi kekuasaan, Randi misalnya, salah satu penyampai aspirasi yang dipaksa meregangkan nyawa demi  langgengnya kekuasaan.

Tercatat sejak Januari 2019, menurut Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia menyampaikan bahwa ada 51 nyawa hilang akibat menyampaikan aspirasi. Pada periode Januari hingga Agustus 2020  terdapat 75 konflik agraria dan lingkungan hidup yang disertai dengan  kriminalisasi terhadap petani serta masyarakat adat. Menyusul pada tanggal 7 desember 2020, terjadi penembakan anggota Laskar FPI di KM 50 di Tol Cikampek Jakarta. Terlepas apapun alasan Polisi terkait dengan kematian tersebut, nyawa manusia menjadi penting dari apapun di Negara demokrasi yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Selain demokrasi Pemerintah juga getol menggelorakan Keislamannya, yang disimbolkan melalui Kiyai Ma’ruf Amin.

Padahal dewasa ini kehidupan beragama juga menyoroti betapa penting kedudukan manusia yang diberi amanat, sebagai pengatur di muka bumi ini, manusia

diposisikan sebagai fondasi beragama, yang kerap kali disebut dengan humanism, memberikan martabat manusia sebagaimana yang telah menjadi fitrah bagi kehidupannya. Berbeda dengan agama di masa lalu, yang menempatkan manusia tanpa daya jika dihadapkan dengan perintah agama, dengan bersikap merendah dan penyerahan mutlak dengan doa serta sembahyang. Zaman tersebut dikenal sebagai zaman kegelapan (Darkness), disusul dengan zaman renaissance.

Renaissance berkembang dengan humanism, pada saat itu humanisme menjadi ajaran modern, dengan mengagungkan manusia serta esensialitasnya dalam jagat raya ini, disebabkan agama zaman pertengahan luput akan hal itu, dengan maraknya pratek pendegradasian  manusia dalam struktur jagat raya, meski paham ini bermula di negara Athena, namun telah menjadi suatu paham universal bagi peradaban modern di Barat. Memang  pada dasarnya humanism menjadi reaksi yang sangat keras dari filsafat skolastik serta agama Kristen zaman pertengahan.

Ali Syariati merupakan salah satu  sosiolog islam yang merumuskan kembali kedudukan manusia sebagaimana keotentikan ajaran agama, dengan menunjukan bahwa Islam telah lama menjunjung tinggi kedudukan manusia sejak saat diciptakan, banyak ayat yang menjelaskan terkait dengan kedudukan manusia dengan mendudukan manusia dalam kedudukan yang tinggi dibandingkan dengan entitas lainnya.

Penciptaan Manusia

Manusia pertama dalam Islam adalah Adam AS, ketika hendak diciptakan, seluruh malaikat dikumpulkan serta diajak musyawarah terkait dengan penciptaannya, yang hendak Tuhan jadikan wakilnya di muka bumi.  Jikadilihat tidak ada satupun zaman yang menempatkan kemuliaan kedudukan dan kesucian misi. Bahkan humanism pasca renaissance sekalipun, menurut Ali bahwa ketika Tuhan memilih wakilnya, dengan demikian Tuhan telah menetapkan status spiritual tertinggi sehingga diberikan kepercayaan untuk menjadi wakil-Nya di muka bumi. Dalam beberapa ayat juga dijelaskan terkait dengan pencipataan manusia, yang berasal dari saripati tanah (Q.S 77:20). Meski dalam ayat tersebut manusia diciptakan dari air hina, namun dari setetes air hina Tuhan menciptakan dengan kondisi yang sangat baik (Q.S. 32:7).

Ali menjelaskan bahwa terdapat dua hakikat dalam diri manusia, lumpur dan roh suci, manusia kerapkali memandang symbol lumpur merupakan suatu kenistaan dan kehinaan. Sedangkan roh yang berasal dari Tuhan merupakan symbol dari kemahasempurnaan serta kemahasucian. bagian manusia yang suci dan sempurna adalah  rohnya, di sisi lain juga memiliki dimensi lumpur. Dua dimensi ini justru menjadikan manusia lebih sempurna dibandingkan dengan entitas lain yang berada di alam raya ini.

Penciptaan perempuan esensinya adalah sama dengan penciptaan manusia pada umumnya, berasal dari saripati tanah (Q.S 75:35), berkaitan dengan penciptaan manusia yang berasal dari tulang rusuk Adam, rusuk yang dimaksud adalah hakikat, bukan bermakna literal sebagaimana pemahaman yang beredar, bahkan al-Qur’anpun tidak menyebutkan bahwa penciptaan perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki.

Berbeda dengan  konsep yang lain, sekelas Nietschepun masih membedakan laki-laki dan perempuan yang diciptakan dari sumber yang berbeda, akan tetapi karena laki-laki dan perempuan sering melakukan interaksi satu sama lain, dan berlanjut selama berabad-abad sehingga menemukan titik persamaan. Meskipun ujungnya memandang sama laki-laki dan perempuan, tetapi pada hakikatnya mereka tetap cenderung sulit menerima bahwa laki-laki dan perempuan sama derajatnya.

Oleh Hendriana (Penulis Merupakan Ketua IMM Kabupaten Majalengka)